Sebuah Penelitian Mengatakan Bahwa Marah-Marah di Sosial Media Menular ke Orang Lain
Healthek - Ada bermacam-macam reaksi emosi yang timbul ketika kita scroll media sosial. Senang ketika melihat video kucing, sedih ketika melihat berita duka, dan marah ketika ada unggahan menghina.
Apa reaksi anda ketika melihat kiriman kucing tersebut? Mungkin anda akan menekan tombol like. Anda juga mungkin akan memberi respons dengan mengetik beberapa kalimat duka di kolom komen ketika melihat berita duka.
Namun, ketika melihat sebuah kiriman yang memancing kemarahan, rasanya tidak cukup jika hanya memberi ketikan komentar marah.
Ada sedikit rasa kecenderungan untuk membagikan dan menyebarluaskan kiriman ini agar semua orang ikut marah. Ternyata ada sebuah riset yang cukup menjelaskan tentang ini.
Pada sebuah penelitian yang dipublikasikan tahun 2014, Rui Fan dan kolega melakukan penelitian besar-besaran di media sosial Weibo (media sosial khusus China) dan Twitter.
Penelitian ini melibatkan 70 juta kiriman Weibo yang berfokus kepada kiriman kata-kata (bukan gambar atau video). Emosi dianalisa dari jutaan kiriman tersebut, dan hasilnya menunjukkan kiriman yang memancing kemarahan lebih mudah menyebar di antara pengguna.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa kemarahan secara signifikan lebih berkorelasi dibanding emosi lain seperti senang. Namun di luar ekspektasi kita, korelasi terhadap kesedihan cukup rendah."
Tulis Rui Fan di jurnal penelitiannya yang terbit di PloS ONE.
Sosial media bukan lagi menjadi kanal pertukaran informasi, tapi juga pertukaran emosi. Informasi menyebar secepat kilat, begitu juga kemarahan dan emosi negatif lainnya.
Di penelitian berbeda yang dipublikasikan penulis yang sama, Rui Fan meneliti hubungan antar pengguna ketika ada transaksi emosi pada kiriman tweet.
Penelitian menggunakan 11 juta tweet yang diunggah mulai dari 2014 sampai 2015. Hasilnya masih menunjukkan bahwa kemarahan adalah emosi paling mudah menular, melebihi kesedihan (unhappiness) dan kesenangan (happiness).
Namun, poin utama dari penelitian ini adalah mencari hubungan antarpengguna (user/account) lalu mencari tahu kecenderungan untuk menyebar kiriman yang memancing emosi marah khususnya pengguna yang saling kenal.
Hasilnya, kiriman dengan emosi marah lebih mudah menyebar di antara orang asing (complete stranger) ketimbang antara teman (atau mutual akrab). Hubungan teman atau akrab ini didefinisikan dengan banyaknya interaksi online yang sudah terjadi sebelumnya.
Emosi bahagia (delight) lebih mudah menyebar di antara teman online tersebut, sementara pengguna lebih mudah menyebarkan emosi marah yang didapat dari orang asing atau seseorang yang bukan temannya.
Penyebaran konten dan emosi negatif ini dapat ditekan dengan cara memberi waktu jeda untuk pertimbangan sebelum menekan tombol post ketika selesai mengetik tweet marah.
Apa reaksi anda ketika melihat kiriman kucing tersebut? Mungkin anda akan menekan tombol like. Anda juga mungkin akan memberi respons dengan mengetik beberapa kalimat duka di kolom komen ketika melihat berita duka.
Namun, ketika melihat sebuah kiriman yang memancing kemarahan, rasanya tidak cukup jika hanya memberi ketikan komentar marah.
Ada sedikit rasa kecenderungan untuk membagikan dan menyebarluaskan kiriman ini agar semua orang ikut marah. Ternyata ada sebuah riset yang cukup menjelaskan tentang ini.
Pada sebuah penelitian yang dipublikasikan tahun 2014, Rui Fan dan kolega melakukan penelitian besar-besaran di media sosial Weibo (media sosial khusus China) dan Twitter.
Penelitian ini melibatkan 70 juta kiriman Weibo yang berfokus kepada kiriman kata-kata (bukan gambar atau video). Emosi dianalisa dari jutaan kiriman tersebut, dan hasilnya menunjukkan kiriman yang memancing kemarahan lebih mudah menyebar di antara pengguna.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa kemarahan secara signifikan lebih berkorelasi dibanding emosi lain seperti senang. Namun di luar ekspektasi kita, korelasi terhadap kesedihan cukup rendah."
Tulis Rui Fan di jurnal penelitiannya yang terbit di PloS ONE.
Sosial media bukan lagi menjadi kanal pertukaran informasi, tapi juga pertukaran emosi. Informasi menyebar secepat kilat, begitu juga kemarahan dan emosi negatif lainnya.
Di penelitian berbeda yang dipublikasikan penulis yang sama, Rui Fan meneliti hubungan antar pengguna ketika ada transaksi emosi pada kiriman tweet.
Penelitian menggunakan 11 juta tweet yang diunggah mulai dari 2014 sampai 2015. Hasilnya masih menunjukkan bahwa kemarahan adalah emosi paling mudah menular, melebihi kesedihan (unhappiness) dan kesenangan (happiness).
Namun, poin utama dari penelitian ini adalah mencari hubungan antarpengguna (user/account) lalu mencari tahu kecenderungan untuk menyebar kiriman yang memancing emosi marah khususnya pengguna yang saling kenal.
Hasilnya, kiriman dengan emosi marah lebih mudah menyebar di antara orang asing (complete stranger) ketimbang antara teman (atau mutual akrab). Hubungan teman atau akrab ini didefinisikan dengan banyaknya interaksi online yang sudah terjadi sebelumnya.
Emosi bahagia (delight) lebih mudah menyebar di antara teman online tersebut, sementara pengguna lebih mudah menyebarkan emosi marah yang didapat dari orang asing atau seseorang yang bukan temannya.
Bagaimana cara mencegahnya?
Penyebaran konten dan emosi negatif ini dapat ditekan dengan cara memberi waktu jeda untuk pertimbangan sebelum menekan tombol post ketika selesai mengetik tweet marah.
Bijak dalam berinteraksi di media sosial adalah yang paling penting sebelum menekan tombol article.
Ilmuwan otak dari Harvard, Dr Jill Bolte Taylor mengatakan, jeda 90 detik adalah waktu yang cukup excellent untuk seseorang lakukan untuk meredam emosi dan membiarkannya melunak dengan sendirinya.
Jangan terlalu terburu-buru marah ketika melihat sebuah video TikTok yang membuat anda marah. Beri sedikit waktu ke diri sendiri sebelum mengetik komentar yang juga negatif dan sebelum membagikannya ke grup WhatsApp.
Ilmuwan otak dari Harvard, Dr Jill Bolte Taylor mengatakan, jeda 90 detik adalah waktu yang cukup excellent untuk seseorang lakukan untuk meredam emosi dan membiarkannya melunak dengan sendirinya.
Jangan terlalu terburu-buru marah ketika melihat sebuah video TikTok yang membuat anda marah. Beri sedikit waktu ke diri sendiri sebelum mengetik komentar yang juga negatif dan sebelum membagikannya ke grup WhatsApp.
Komentar
Posting Komentar