Kisah Seorang Tokoh Penyebar Agama Islam di Cirebon "Ki Lobama", Sebelum Sunan Gunung Jati
Cirebon - Dalam perkembangannya, wilayah Cirebon menjadi salah satu pusat penyebaran Agama Islam sejak beratus-ratus tahun lalu. Saat itu, Islam menjadi ajaran yang kian populer ketika disebarkan oleh Wali Songo, di bawah kepemimpinan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Namun sebagaimana diberitakan kanal YouTube Cirebon Heritage Rabu (03/11), di wilayah pesisir Utara Jawa Barat, Agama Islam ternyata sudah berkembang lebih dulu sejak abad ke-12 masehi, jauh sebelum Sunan Gunung Jati lahir.
Sosok penyebarnya saat itu bernama Syekh Abdurahman Al-Qadri, atau warga setempat lebih mengenalnya sebagai Ki Lobama.
Berkat kehebatannya, Ia disebut mampu mengenalkan ajarannya hingga ke masyarakat di sebagian wilayah pulau Jawa. Berikut kisahnya.
Berdasarkan penuturan Solihin, juru kunci makam Ki Lobama di Kecamatan Mundu, Cirebon, masyarakat sekitar memiliki kepercayaan jika Ki Lobama merupakan pendakwah pertama Agama Islam di wilayah tersebut.
Ia diutus langsung oleh ulama Fiqih dan Sunni dari Kurdi, Syekh Abdul Qadir Jailani yang juga bermahzab Hambali dan dikenal luas sebagai pendiri Thariqot Qadiriyyah.
Diketahui, Ki Lobama juga merupakan expert agama 'gaib' dari Mbah Kuwu Cirebon, atau Pangeran Walasungsang (dikenal juga Pangeran Cakrabuwana). Putra dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran) yang memutuskan keluar kerajaan untuk mendirikan nagari Cirebon.
"Beliau Ki Lobama merupakan utusan dari Baghdad untuk menyebarkan Agama Islam di Jawa, dan merupakan guru gaibnya Mbah Kuwu Cirebon," kata Solihin.
Melansir laman historyofcirebon.id, Ki Lobama datang ke Pulau Jawa pada abad ke-12 (sekitar tahun 1101-an) dalam rangka mendakwahkan Islam di Pulau Jawa.
Jika ditinjau dari waktu kedatangannya di Cirebon, masa itu terpaut jauh ratusan tahun dari masa penyebaran agama oleh Sunan Gunung Jati dan Wali Songo yang lain di paruh tahun 1479-- 1568 masehi.
Disebutkan Solihin, Ki Lobama memiliki masa dakwah yang terpaut 300 tahun sebelum age kekuasaan dari Mbah Kuwu Cirebon, Pangeran Cakrabuwana atau Pangeran Walang Sungsang.
"Jika melihat usia, Ki Lobama sangat terpaut jauh selisih usia dengan Mbah Kuwu (pendiri Cirebon) itu sekitar 300 tahun," ujar Solihin, di sela-sela kesibukannya di kompleks makam tua itu.
Syekh Abdurahman Al-Qadri mendapat julukan Ki Lobama karena pengaruhnya yang berhasil diterima oleh masyarakat yang saat itu masih kuat terpengaruh tradisi dari kerajaan-kerajaan Sunda.
Ia dijuluki Lobama karena memiliki pengetahuan yang banyak dan luas, terkait penerapan ilmu Agama Islam di kalangan masyarakat Jawa khususnya Mundu di Cirebon.
Jika mengacu ke bahasa, Lobama artinya Loba Agama, atau banyak memahami seluk beluk keagamaan.
Lokasi makam Ki Lobama berada di Desa Mundu Kec Mundu Kab Cirebon. Ia dimakamkan bersama tokoh-tokoh penting Cirebon di masa lalu, salah satunya Pangeran Bratakelana, anak Sunan Gunung Jati yang wafat akibat dirampok di laut Jawa.
Namun sebagaimana diberitakan kanal YouTube Cirebon Heritage Rabu (03/11), di wilayah pesisir Utara Jawa Barat, Agama Islam ternyata sudah berkembang lebih dulu sejak abad ke-12 masehi, jauh sebelum Sunan Gunung Jati lahir.
Sosok penyebarnya saat itu bernama Syekh Abdurahman Al-Qadri, atau warga setempat lebih mengenalnya sebagai Ki Lobama.
Berkat kehebatannya, Ia disebut mampu mengenalkan ajarannya hingga ke masyarakat di sebagian wilayah pulau Jawa. Berikut kisahnya.
Berasal dari Baghdad
Berdasarkan penuturan Solihin, juru kunci makam Ki Lobama di Kecamatan Mundu, Cirebon, masyarakat sekitar memiliki kepercayaan jika Ki Lobama merupakan pendakwah pertama Agama Islam di wilayah tersebut.
Ia diutus langsung oleh ulama Fiqih dan Sunni dari Kurdi, Syekh Abdul Qadir Jailani yang juga bermahzab Hambali dan dikenal luas sebagai pendiri Thariqot Qadiriyyah.
Diketahui, Ki Lobama juga merupakan expert agama 'gaib' dari Mbah Kuwu Cirebon, atau Pangeran Walasungsang (dikenal juga Pangeran Cakrabuwana). Putra dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran) yang memutuskan keluar kerajaan untuk mendirikan nagari Cirebon.
"Beliau Ki Lobama merupakan utusan dari Baghdad untuk menyebarkan Agama Islam di Jawa, dan merupakan guru gaibnya Mbah Kuwu Cirebon," kata Solihin.
Lebih Dulu Menyebarkan Agama Islam dari Sunan Gunung Jati
Melansir laman historyofcirebon.id, Ki Lobama datang ke Pulau Jawa pada abad ke-12 (sekitar tahun 1101-an) dalam rangka mendakwahkan Islam di Pulau Jawa.
Jika ditinjau dari waktu kedatangannya di Cirebon, masa itu terpaut jauh ratusan tahun dari masa penyebaran agama oleh Sunan Gunung Jati dan Wali Songo yang lain di paruh tahun 1479-- 1568 masehi.
Disebutkan Solihin, Ki Lobama memiliki masa dakwah yang terpaut 300 tahun sebelum age kekuasaan dari Mbah Kuwu Cirebon, Pangeran Cakrabuwana atau Pangeran Walang Sungsang.
"Jika melihat usia, Ki Lobama sangat terpaut jauh selisih usia dengan Mbah Kuwu (pendiri Cirebon) itu sekitar 300 tahun," ujar Solihin, di sela-sela kesibukannya di kompleks makam tua itu.
Asal Usul Nama Lobama
Syekh Abdurahman Al-Qadri mendapat julukan Ki Lobama karena pengaruhnya yang berhasil diterima oleh masyarakat yang saat itu masih kuat terpengaruh tradisi dari kerajaan-kerajaan Sunda.
Ia dijuluki Lobama karena memiliki pengetahuan yang banyak dan luas, terkait penerapan ilmu Agama Islam di kalangan masyarakat Jawa khususnya Mundu di Cirebon.
Jika mengacu ke bahasa, Lobama artinya Loba Agama, atau banyak memahami seluk beluk keagamaan.
Lokasi makam Ki Lobama berada di Desa Mundu Kec Mundu Kab Cirebon. Ia dimakamkan bersama tokoh-tokoh penting Cirebon di masa lalu, salah satunya Pangeran Bratakelana, anak Sunan Gunung Jati yang wafat akibat dirampok di laut Jawa.
Komentar
Posting Komentar