Kisah Keberadaan PKI di Cianjur Saat Mulai Dilakukan Pencidukan Dan Penangkapan

Jakarta - Sudah banyak tulisan yang mengulas tentang situasi pasca terjadinya Peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Jakarta. Namun bagaimana kondisi di daerah-daerah kala itu jarang sekali orang membahasnya. Hari ini saya berada di Cianjur untuk menelisik cerita situasi kota tersebut setelah meletusnya peristiwa G30S di Jakarta.

R. AGUS THOSIN masih ingat berita pagi itu. Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta tiba-tiba menyiarkan berita adanya upaya penyelamatan Presiden Sukarno dari sekelompok pengkhianat bernama Dewan Jenderal. Kontan orang-orang Cianjur menjadi geger. Para petinggi kota tersebut langsung berkoordinasi karena berita itu dirasakan sangat mendadak dan masih simpang-siur.

"Bapak saya bilang: ini pasti PKI (Partai Komunis Indonesia). Maunya apa mereka itu?"kenang lelaki kelahiran Cianjur pada 17 Agustus 1950 tersebut.

Raden Thosin Hidayat (ayah dari Agus) langsung menghubungi kolega-koleganya di Partai IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) dan pihak Komando Distrik Militer Cianjur. Para veteran pejuang kemerdekaan Indonesia itu sama sekali 'tak terima' jika tentara disebut-sebut mengkhianati Presiden Sukarno.

Sejak Juli 1965, unsur-unsur dari PKI Comite Sektor Cianjur pimpinan Maksudi memang terlihat sangat aktif. Menurut Tjutju Soendoesijah, mereka kerap melakukan berbagai rapat, pertemuan terbuka dan berlatih baris berbaris di suatu tempat bernama Sirnagalih.

"Saya tahu soal itu karena rumah saya di Cikaret, persis bersebrangan dengan rumah salah satu pejabat PKI Cianjur,"ungkap perempuan berusia 75 tahun itu.

Barulah beberapa hari usai Insiden 30 September 1965 meletus, orang-orang PKI mulai diganyang. Pencidukan dan penangkapan kerap dilakukan aparat tentara setempat terhadap para anggota partai kiri dan orang-orang yang dicurigai sebagai simpatisannya.

Masih segar dalam kenangan Tjutju, Kholik salah satu anggota Pemuda Rakyat (salah satu organisasi mantel PKI) yang tinggal di dekat rumahnya suatu siang digiring oleh sekelompok tentara ke atas truk militer.

Entah dibawa kemana. Begitu juga dia sempat mendengar kabar jika kakak dari seorang sahabatnya yang juga aktif dalam Barisan Tani Indonesia (BTI) diciduk di wilayah Perkebunan Teh Ciseureuh.

"Saya dengar saat ditangkap, si Akang itu coba dipertahankan oleh neneknya. Bahkan saking sedihnya, beberapa hari kemudian sang nenek meninggal dunia,"ujar Tjutju.

Namun tidak semua yang diciduk adalah aktivis PKI. Menurut Agus ada orang yang ditangkap semata-mata karena kena tulis tonggong. Itu istilah orang-orang Cianjur untuk manusia-manusia yang terkena fitnah.

Sebagai contoh salah satu mandor pemakaman bernama Atjoen. Karena ada aparat yang tak menyukainya, dia ikut juga diciduk."Padahal dia bukan anggota PKI dan tidak tahu politik,"ungkap Agus.

Faktor politik juga mempengaruhi proses pengganyangan. Sebagai contoh, R. Asep Adung Purawidjaja yang selama menjabat terlihat sangat condong kepada Bung Karno (bisa jadi karena dia anggota Partai Nasional Indonesia), juga kena retool. Dia kemudian digantikan oleh pejabat dari kalangan Angkatan Darat yaitu Letnan Kolonel R. Rakhmat.

Lantas ditahan di manakah orang-orang yang malang itu? Agus menyebut sebagian besar tahanan PKI itu ditempatkan di sebuah bangunan bekas pabrik karet. Bangunan yang saat ini persis ada di sebelah gedung Gelanggang Generasi Muda Cianjur dikenal sebagai Kamp Panembong.

"Tapi di sana hanya untuk anggota PKI yang bawah-bawah saja. Kalau sekelas Pak Maksudi (Ketua Comite Sektor PKI Cianjur) tentunya dikirim ke Pulau Buru,"ungkap lelaki yang pernah aktif di Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) Cianjur itu.

Rosidi, berusia 91 tahun, adalah satu bekas penghuni Kamp Panembong yang masih hidup hingga kini. Menurut eks anggota Sarikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (SARBUPRI) itu, ada sekira 1500 tahanan PKI yang menghuni kamp yang dibawahi oleh seorang perwira Corps Polisi Militer (CPM) bernama Peltu Dadang Mulyadi. Tapi benarkah Rosidi paham terhadap ajaran komunisme?

"Wah saya mah enggak tahu, apa itu komunis-komunis begitu? Abah jadi anggota SARBUPRI (semata-mata karena) dapat kartu (yang berguna) buat keterangan di jalan dan bisa dipakai untuk nonton movie di bioskop. Itu saja yang Abah tau mah,"ujar Rosidi dalam buku Cerita Hidup Rosidi karya Tosca Santoso.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bekas Ruang VIP Keraton Majapahit , Dukuh Kedaton di Mojokerto

Pesawat Luar Angkasa NASA Berhasil Menyentuh Matahari Pertamakali Dalam Sejarah Manusia

Penerbangan Qatar Airways Mulai Dibuka Kembali Melayani Rute Penerbangan Jakarta-Madinah PP