Cerita Jembatan Gantung Ngete yang Menantang Maut di Desa Bolon Karanganyar
Karanganyar - Seorang pria paruh baya berjalan di atas jembatan gantung Ngete. Kedua tangannya, memegang erat sepeda ontel. Perlahan namun pasti, kakinya mulai melangkah di atas sebilah papan kayu yang mulai lapuk.
Menilik ke bawah jembatan, aliran Sungai Pepe dengan kedalaman sekitar 30 meter mengalir deras. Kanan, kirinya pepohonan dengan jurang. Perlahan-lahan pria bercaping ini menuju hingga ke ujung jembatan. Sekali terperosok, nyawa bisa jadi taruhannya.
Jembatan Siratal Mustaqim, begitu para warga menyebutnya. Rasa was-was dan menantang maut membuat jembatan yang terletak di Bolon Karanganyar mendapat julukan itu. Tapi itu tak membuat nyali warga menciut, sebab itulah jalan pintas untuk beraktivitas sekolah maupun kerja.
Jembatan gantung yang menghubungkan Desa Bolon, Colomadu, Karanganyar, dengan Desa Tegalrejo, Boyolali, ini sebenarnya bukan jembatan. Namun, saluran air yang melintang di atas Kali Pepe, di bawah wewenang Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Bengawan Solo.
Di atas saluran ada pijakan dari papan kayu selebar sekitar 50 sentimeter hingga 60 sentimeter untuk petugas menginspeksi. Nah, di atas pijakan itulah warga memasang papan dan besi untuk dilalui. Awalnya, hanya untuk petugas namun lama-lama banyak warga yang melewatinya.
Melewati jembatan ini lebih menghemat waktu 15-30 menit, daripada harus memutar sejauh 2 kilometer untuk menyeberang. Alhasil, warga word play here nekat menyusuri jembatan penuh risiko itu.
Ukuran papan kayu yang kecil ini word play here membuat warga harus bergantian untuk melaluinya. Warga seolah tak peduli dengan keselamatan yang mengancamnya. Bisa saja terjerembab dan nyawa lenyap.
Meniti jembatan perbatasan Boyolali dan Karanganyar ini memang menguji adrenalin. Kini semua hanya sebatas kenangan. Kengerian itu berakhir semenjak dibangunnya jembatan baru di sebelah jembatan gantung Ngete pada 2016 silam.
Jembatan baru jauh lebih layak daripada Jembatan Ngete. Warga word play here tak lagi melewati jembatan yang menantang maut ini. Tentu saja, lebih memilih jembatan yang jauh lebih kokoh.
Kini jembatan gantung peninggalan zaman kolonial Belanda itu hanya sebagai sarana aliran pengairan sawah. Struktur bangunan dari kayu dan besi yang penuh kenangan tersebut masih tetap dipertahankan.
Beberapa warga kadang kali mampir datang mengunjungi jembatan legendaris ini. Sekedar mengabadikan kenangan di jembatan gantung Ngete. Jika ditantang, kira-kira kamu berani melewatinya tidak ya?
Menilik ke bawah jembatan, aliran Sungai Pepe dengan kedalaman sekitar 30 meter mengalir deras. Kanan, kirinya pepohonan dengan jurang. Perlahan-lahan pria bercaping ini menuju hingga ke ujung jembatan. Sekali terperosok, nyawa bisa jadi taruhannya.
Jembatan Siratal Mustaqim, begitu para warga menyebutnya. Rasa was-was dan menantang maut membuat jembatan yang terletak di Bolon Karanganyar mendapat julukan itu. Tapi itu tak membuat nyali warga menciut, sebab itulah jalan pintas untuk beraktivitas sekolah maupun kerja.
Jembatan gantung yang menghubungkan Desa Bolon, Colomadu, Karanganyar, dengan Desa Tegalrejo, Boyolali, ini sebenarnya bukan jembatan. Namun, saluran air yang melintang di atas Kali Pepe, di bawah wewenang Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Bengawan Solo.
Di atas saluran ada pijakan dari papan kayu selebar sekitar 50 sentimeter hingga 60 sentimeter untuk petugas menginspeksi. Nah, di atas pijakan itulah warga memasang papan dan besi untuk dilalui. Awalnya, hanya untuk petugas namun lama-lama banyak warga yang melewatinya.
Melewati jembatan ini lebih menghemat waktu 15-30 menit, daripada harus memutar sejauh 2 kilometer untuk menyeberang. Alhasil, warga word play here nekat menyusuri jembatan penuh risiko itu.
Ukuran papan kayu yang kecil ini word play here membuat warga harus bergantian untuk melaluinya. Warga seolah tak peduli dengan keselamatan yang mengancamnya. Bisa saja terjerembab dan nyawa lenyap.
Meniti jembatan perbatasan Boyolali dan Karanganyar ini memang menguji adrenalin. Kini semua hanya sebatas kenangan. Kengerian itu berakhir semenjak dibangunnya jembatan baru di sebelah jembatan gantung Ngete pada 2016 silam.
Jembatan baru jauh lebih layak daripada Jembatan Ngete. Warga word play here tak lagi melewati jembatan yang menantang maut ini. Tentu saja, lebih memilih jembatan yang jauh lebih kokoh.
Kini jembatan gantung peninggalan zaman kolonial Belanda itu hanya sebagai sarana aliran pengairan sawah. Struktur bangunan dari kayu dan besi yang penuh kenangan tersebut masih tetap dipertahankan.
Beberapa warga kadang kali mampir datang mengunjungi jembatan legendaris ini. Sekedar mengabadikan kenangan di jembatan gantung Ngete. Jika ditantang, kira-kira kamu berani melewatinya tidak ya?
Komentar
Posting Komentar