Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

Cerita Jembatan Gantung Ngete yang Menantang Maut di Desa Bolon Karanganyar

Karanganyar -  Seorang pria paruh baya berjalan di atas jembatan gantung Ngete. Kedua tangannya, memegang erat sepeda ontel. Perlahan namun pasti, kakinya mulai melangkah di atas sebilah papan kayu yang mulai lapuk. Menilik ke bawah jembatan, aliran Sungai Pepe dengan kedalaman sekitar 30 meter mengalir deras. Kanan, kirinya pepohonan dengan jurang. Perlahan-lahan pria bercaping ini menuju hingga ke ujung jembatan. Sekali terperosok, nyawa bisa jadi taruhannya. Jembatan Siratal Mustaqim , begitu para warga menyebutnya. Rasa was-was dan menantang maut membuat jembatan yang terletak di Bolon Karanganyar mendapat julukan itu. Tapi itu tak membuat nyali warga menciut, sebab itulah jalan pintas untuk beraktivitas sekolah maupun kerja. Jembatan gantung yang menghubungkan Desa Bolon, Colomadu, Karanganyar, dengan Desa Tegalrejo, Boyolali, ini sebenarnya bukan jembatan. Namun, saluran air yang melintang di atas Kali Pepe, di bawah wewenang Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Bengawan Solo. ...

Sejarah Bung Karno Saat Bacakan Proklamasi Kemerdekaan RI dan Suasana di Bekasi Usai Proklamasi

Bekasi -  Selesai upacara, berita proklamasi langsung disebar ke pelosok Jakarta, Jawa Barat dan kota-kota besar lainnya, termasuk Bekasi menggunakan berbagai sarana. Baik pemuda yang menyaksikan langsung hingga alat komunikasi seperti radio hingga telegram. Dikutip dari buku 'Kemandirian Ulama Pejuang, KH Noer Alie' karya Sejarawan Bekasi, Ali Anwar, seorang pemuda dari Bekasi, Ya'kub Gani menyaksikan langsung pembacaan teks proklamasi oleh Bung Karno di Jakarta . Setelah selesai, ia bergegas pulang, mengabarkan berita gembira itu kepada gurunya, KH Noer Alie, Pahlawan Nasional asal Bekasi. Noer Alie yang sudah merasakan gelagat kemerdekaan, menyambut kabar itu dengan suka cita. Hari itu juga, Jumat aching, Noer Alie mengumumkan berita proklamasi kepada para badal, santri dan masyarakat di masjid Kampung Ujungmalang, Bekasi. "Noer Alie menerangkan makna kemerdekaan sebagai bentuk kebebasan bumiputera dari penjajahan bangsa lain, terutama Jepang, Belanda dan tuan tana...

Sejarah Maung Panjalu, Simbol Persahabatan Majapahit Dan Pajajaran Yang melegenda

Jakarta - Sebagai dua wilayah dengan kultur berbeda, Kerajaan Majapahit dan Pajajaran tak selalu menampilkan hubungan yang tak harmonis. Salah satunya terlihat dari pernikahan antara Raja Majapahit bergelar Prabu Brawijaya dan Puteri Pajajaran Kencana Larang melalui sejarah Maung Panjalu yang melegenda. Dilansir dari tulisan Ceppi Gunawan di elib.unikom.ac.id tahun 2015 (8/7), dikisahkan jika pernikahan keduanya berjalan harmonis hingga Puteri Kencana Larang hamil dan melahirkan anak kembar bernama Bongbang Larang dan Bongbang Kencana. Kedua anak kembar tersebut kemudian menjadi simbol persahabatan antara Jawa dan Sunda, setelah berubah menjadi dua ekor maung di kawasan Panjalu, Jawa Barat. Upaya Memutus Permusuhan Perang Bubat Kisah persaudaraan Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran tersebut bermula dari keinginan Raja Brawijaya untuk memutus permusuhan dengan Negara Pajajaran (Sunda) oleh leluhur mereka, yakni Raja Hayam Wuruk dan Puteri Dyah Pitaloka pasca peran...